Pulang Mudik membawa Dosa Riba Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita ketika menjelang hari raya idul fitri yaitu melakukan "mudik" atau pulang berkunjung ke kampung halaman. Yang kita bicarakan bukan mengenai hukum mudik akan tetapi lebih ke sebuah muamalah yang merupakan dosa besar yaitu Riba Fadhl yang biasa terjadi ketika musim mudik tiba. Riba fadhl tersebut berada pada transaksi jasa tukar uang receh yang menjamur disetiap musim mudik menjelang lebaran. uang kertas sama 'illatnya dengan emas dan perak yakni alat tukar. Oleh karena itu jika rupiah ditukar dengan rupiah maka disyaratkan tunai dan sama jumlahnya atau takarannya. Berdasarkan dalil : Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584). dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, ukuran dan takarannya harus sama, dan harus dari tangan ke tangan (secara tunai). Jika jenis-jenisnya tidak sama, maka juallah sesuka kalian asalkan secara tunai.”(HR.Bukhari) Dibulan ramadhan yang penuh keberkahan seharusnya seorang muslimz memperbanyak amal ibadah dan bukan sebaliknya yaitu melakukan dosa riba yang begitu berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya) sumber http://sekolahmuamalah.com
BELAJAR HUKUM ISLAM
Selasa, 21 Juni 2016
HINDARI RIBA
Pulang Mudik membawa Dosa Riba Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita ketika menjelang hari raya idul fitri yaitu melakukan "mudik" atau pulang berkunjung ke kampung halaman. Yang kita bicarakan bukan mengenai hukum mudik akan tetapi lebih ke sebuah muamalah yang merupakan dosa besar yaitu Riba Fadhl yang biasa terjadi ketika musim mudik tiba. Riba fadhl tersebut berada pada transaksi jasa tukar uang receh yang menjamur disetiap musim mudik menjelang lebaran. uang kertas sama 'illatnya dengan emas dan perak yakni alat tukar. Oleh karena itu jika rupiah ditukar dengan rupiah maka disyaratkan tunai dan sama jumlahnya atau takarannya. Berdasarkan dalil : Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584). dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, ukuran dan takarannya harus sama, dan harus dari tangan ke tangan (secara tunai). Jika jenis-jenisnya tidak sama, maka juallah sesuka kalian asalkan secara tunai.”(HR.Bukhari) Dibulan ramadhan yang penuh keberkahan seharusnya seorang muslimz memperbanyak amal ibadah dan bukan sebaliknya yaitu melakukan dosa riba yang begitu berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya) sumber http://sekolahmuamalah.com
Sabtu, 07 Mei 2016
BI CHECKING VS ALLAH CHECKING
Dalam dunia kredit-mengkredit ternyata 'prestasi' kita selalu dipantau oleh Bank Indonesia selaku bank sentral di negara ini. Mereka punya data online urusan utang bank semua manusia dari Sabang sampai Merauke, dari Trenggalek sampai Pulau Rote, dari bakul gaplek sampai bakul tempe..
Kualitas kredit kita diberi ukuran Kol 1-5, Kol artinya Kolektibilitas atau kualitas tagihan utang. Kol 1-2 termasuk kategori lancar jaya, bayar utang tertib paling telat-telat dikit. Dapat cap nasabah teladan, dikasih medali virtual sebagai sasaran terbaik untuk menambah utang.. Ini nasabah yang jadi rebutan, semakin cepet lunas, semakin cepat tawaran kredit akan ditawarkan untuk dinaikkan. Jebakan sifat buruk utang adalah.. terus nambah.. terus nambah.. terusss nambah..
Kata temen saya yang kerja di bank dulu, urutan arti Kol 1-5 sebagai berikut:
Kol 1: artinya lancar
Kol 2: artinya punya tunggakan sampai dengan 90 hari (3 bulan)
Kol 3: artinya punya tunggakan sampai 120 hari (4 bulan)
Kol 4: artinya punya tunggakan sampai 150 hari (5 bulan)
Kol 5: artinya punya tunggakan 180 hari keatas (6 bulan)
Kol 3-5 ini sudah dalam pengawasan ketat BI, bahkan Kol 2 jika berturut-turut 3 bulan pun bisa diblack list sama BI.
Kol 3-5 sudah gak bisa utang ke bank lagi sebelum dilunasi, ini yang bikin eneg dan muntah bagian kredit bank, dulu waktu awal-awal sasaran empuk disayang-sayang, sekarang tinggal 'dilepeh' saja kayak ampas tebu dan dibuang..
Pilihannya adalah proses lelang aset yang dijadikan jaminan di bank melalui kantor KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang), saya dulu terburu-buru baca jadi KNIL.. Baru sadar kalau KNIL itu tentara Belanda tempo doeloe.. Hehe!
Jadi asset utang kita kayak rumah, ruko, tanah, atau lainnya akan disita, diumumkan di media massa, ini lho asset-asset rampasan perang yang dijual murah. Ada nama kita tuh! Maluuu dibaca ribuan orang, karena langsung dicap gak bisa bayar utang! Bangkrut! Bahkan ada tuh yang memfoto iklan lelang asset, jadi bahan gunjingan di WA.. "Eeeh temen kita nih! Gua kira dia sukses bisnisnya banyak, ternyata numpuk utang! Nih dia kena lelang.."
Yang temen beneran diam-diam mendoakan agar segera beres semua urusan, yang punya dendam bakal sorak sorai dalam hati menyukurkan... "Rasain luuu, modyaaarrr!bangkrut sekarang!"
Kalo sudah terjual nanti dihitung lagi, apakah bisa nutup utang kita di bank atau tidak, waktu jaman jahiliyah dulu ada praktek upgrade nilai agunan, bakalan ketahuan nih, ternyata rumah atau ruko yang diagunkan nilainya jauh dari uang yang sudah dicairkan.
Bahkan ada lho praktek yang ngeri bin sadizzz.. Rumah harga asli 300 juta dinaikkan appraisal jadi 500 juta, biar cair utangnya bisa 400 juta. Kalo udah cair pihak pengutang ngasih komisi ke oknum karyawan bank sekian persen. Ini dianggep saling menguntungkan, yang utang dapat duit cair lebih banyak, oknum bank dapat nutup target bulanan plus dapat komisi gelap dari dana yang dicairkan... Yang ini gak tercatat di BI Checking, tapi ada dalam catatan Allah Checking..
Dug.. Dug.. Dug.. Dug.. Jantung berdegub..
Apa itu mas Allah Checking?
Ini bro-sis ayatnya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.."
(Al-Qur'an Ar-Ra`d:11)
Ternyata CCTV Allah mantengin kita 24 jam, lewat malaikat yang Allah pasang di muka dan belakang, jika manusia di dunia saat ini ada 5 milyar, gampaaaang bagi Allah untuk bikin malaikatnya 50 Milyar.. Gak bakal kehabisan stock! Jadi yang ngawasin kita ada teruuss! Dan tiap hari malaikat ini dapat tugas nulis kebaikan dan keburukan yang kita lakukan.. Ini yang ngeriii bro!
Tiap hari selalu ada yang mati, kita pun masuk daftar antrian, naaah.. Pas nanti kita jatahnya dipanggil, malaikat sudah siap membawa buku catatan semua kelakuan kita...
Ketahuan deh di raport itu:
1. Gak pernah sholat.. Centang!
2. Sholat hobinya telat.. Centang!
3. Gak bayar zakat.. Centang!
4. Gak pernah puasa.. Centang!
5. Gak pernah baca Quran.. Centang!
6. Gak pernah sedekah.. Centang!
7. Durhaka pada orang tua.. Centang!
8. Hobinya ghibah.. Centang!
9. Suka memfitnah.. Centang!
10. Dzalim pada orang lain.. Centang!
11. Makan riba.. Centang!
12. Makan suap.. Centang!
13. Makan rezeki haram.. Centang!
14. Utang gak dibayar.. Centang!
15. Suka Zinah... Centang!
16. Saya sudah tidak bisa melanjutkan...
"Hanjuk piyeee" kalo raport kita hitam legam seperti itu? Disana cuman ada dua tempat.. Surga dan neraka.. Gak ada tempat mampir lainnya..
Bulan lalu dua kawan saya seumuran meninggalkan dunia, ternyata mati gak urut umur yaa.. Hiks!
Dan sampai hari ini, saya masih gemetarrrr membayangkan buku 'Allah Checking' saya masih hitam legam.. Saya sudah gak peduli BI Checking saya bagusss untuk sekedar menambah tawaran utang...
REZEKI HALAL UNTUK KELUARGAKU
Sebuah tulisan di group telegram yang saya terima mengusik hati.. Sebagai lelaki, kepala keluarga, membaca ini pasti terusik.... Takuuuuuuttt jika ada harta haram yang ditelan oleh istri, anak dan keluarga kita..
Selamat membaca..
----------------
Catatan Untuk Kepala Keluarga...
Salah satu diantara musibah besar yang menimpa sebagian keluarga muslim adalah, penghasilan sang suami sebagai penanggung jawab nafkah dari sumber yang haram. Meskipun bisa jadi mereka terlihat tidur nyenyak, di rumah megah nan sejuk ber-AC, dengan mobil mewah anti debu dan polusi, namun sejatinya hati mereka tidak akan bisa tenang.
Sehebat apapun fasilitas yang mereka miliki, mereka tidak akan bisa menggapai ketenangan, layaknya orang yang berpenghasilan murni halal. Karena seperti itulah yang Allah nashkan dalam Alquran,
“Siapa yang berpaling dari peringatan yang Aku turunkan, dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).
Sementara mereka yang bergelut dengan harta haram tidak jauh dari ayat ini.
Daging-daging Bahan Bakar Neraka
Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht, kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani).
Dalam riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,
“Tidak akan masuk surga, daging yang tumbuh dari as-suht, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Ahmad 14032 dengan sanad jayid sebagaimana keterangan al-Albani).
Dimanakah Anda wahai para kepala keluarga! Halalkah pekerjaan Anda wahai para penanggung jawab nafkah! Jika Anda sangat mengkhawatirkan kesehatan mereka, sudahkah Anda mencemaskan keselamatan daging-daging mereka? Pernahkah Anda mengkhawatirkan anak dan istri Anda ketika mereka makan bara api neraka? Berusahalah mencari yang halal, dan jangan korbankan diri Anda dan tubuh Anda.
Syaikhul Islam mengatakan,
Makanan akan bercampur dengan tubuh dan tumbuh menjadi jaringan dan sel penyusunnya. Jika makanan itu jelek maka badan menjadi jelek, sehingga layak untuknya neraka. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya.‘ Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik. (Ma’mu’ al-Fatawa, 21:541).
Mereka yang Cemas ketika Makan Harta Haram
Aisyah menceritakan,
Abu Bakar memiliki seorang budak. Pada suatu hari, sang budak datang dengan membawa makanan dan diberikan kepada Abu Bakar. Setelah selesai makan, sang majikan yang wara’ bertanya, ‘Itu makanan dari mana?’ Si budak menjawab: “Dulu saya pernah berpura-pura jadi dukun semasa jahiliyah. Kemudian aku meramal seseorang. Sebenarnya saya tidak bisa meramal, namun dia hanya saya tipu. Baru saja saya bertemu dengannya dan dia memberi makanan itu, yang baru saja tuan santap.” Seketika itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Abu Bakar mengatakan,
Andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali ruhku harus keluar (mati), aku akan tetap mengeluarkannya. Ya Allah, aku berlepas diri dari setiap yang masuk ke urat dan yang berada di lambung. (HR. Bukhari, 3554).
Kisah yang lain,
Abu Said al-Khadimy (ulama mazhab Hanafi, wafat: 1156H) meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah menitipkan 70 helai kain kepada Bisyr untuk dijual di Mesir. Tidak lupa Abu Hanifah menulis surat kepadanya bahwa kain yang telah diberi tanda, ada cacatnya. Beliau juga memintanya untuk menjelaskan cacat tersebut kepada calon pembeli.
Setelah kembali ke Irak, Bisyr menyerahkan uang hasil penjualan kepada Abu Hanifah sebanyak 3000 keping dinar (± 12,75 kg emas, dengan asumsi 1 dinar=4,25 gr).
Lalu Abu Hanifah menanyakan kepada Al Bisyr, ‘Apakah satu kain yang cacat telah kamu jelaskan kepada pembeli saat menjual?
Bisyr menjawab, “Aku lupa”.
Syahdan sang imam (Abu Hanifah) berdiri, lalu mensedekahkan seluruh hasil penjualan 70 helai kain tersebut. Sebuah nilai yang sangat besar, 12,75 kg emas.
Untuk istri, Bantulah sang Suami untuk Mencari Nafkah yang Halal
Menyadari keselamatan nafkah keluarga ada di tangan suami, selayaknya setiap wanita berusaha memotivasi suaminya untuk mencari rezeki yang halal. Tunjukkan sikap qanaah (merasa cukup dengan apa yang halal) dan bukan menjadi tipe penuntut.
Bisakah Anda memahami, salah satu faktor suami Anda rela untuk bergulat dengan kerasnya hidup adalah dalam rangka membahagiakan Anda dan keluarga. Bila perlu, dia akan berikan seisi dunia ini kepada Anda, agar Anda bisa merasa bahagia bersamanya. Tak heran, sebagian lelaki pecundang, yang merasa tertuntut untuk membahagiakan keluarga, harus tega-tegaan merenggut harta haram, demi mendapatkan target kebahagiaan yang diharapkan. Dari pada pulang dengan disambut wajah cemberut sang istri, lebih pulang dengan harta haram.
Qanaah, itulah kata kuncinya. Merasa cukup dengan yang halal, itulah intinya. Letakkan arti kebahagiaan itu di hati Anda, bukan di mulut dan perut Anda. Karena kesenangan dengan stAndar mulut dan perut adalah ciri khas binatang.
Dulu para wanita, melepas kepergian suaminya yang hendak berangkat mencari nafkah dengan nasehat yang indah. Kalimat menyejukkan yang memberikan semangat luar biasa bagi sang suami untuk mencari nafkah dengan cara yang tidak melanggar syariat. Ketika sang suami hendak berangkat, mereka berpesan,
Wahai fulan (suamiku), berilah makanan yang halal bagi kami. Kami sanggup untuk menahan diri dengan bersabar dalam kondisi lapar. Namun kami tidak sanggup untuk bersabar dari neraka dan murka al-Jabbar (Dzat Yang Maha Mutlak Ketetapan-Nya).
Sikap semacam inilah yang selayaknya Anda tiru… mereka wanita-wanita sholihah, calon-calon bidadari surga. Menghiasai kecantikan dirinya denagn kecantikan akhlaknya. Betapa bahagianya sebuah keluaga dengan kehadiran mereka di tengah-tengah mereka. Tidakkah Anda ingin menjadi seperti dari mereka…?
Masih ada waktu untuk bertobat. Masih ada kesempatan untuk memahami transaksi riba dalam bisnis beserta turunannya. Pastikan setiap keringat yang Anda keluarkan untuk mencari nafkah keluarga bernilai berkah.
KERA NGALAM NADE..!
Arek Malang Edan! itu basa walikan-nya, Besok pagi ada seminar Pengusaha Tanpa Riba di Hotel Haris, gaya promosi cah Arema itu edan dan kewanen, kendel.. Singo Edan tenan!! Saya angkat tangan deh.. Ngeluss dodo.. Eh dada!
Syiarnya gak nanggung-nanggung, memasang baliho besar di jalan-jalan yang membuat shock banyak orang, bahkan ditelpon intel.. Setelah dijelaskan bahwa itu hadist Nabi malah akhirnya pak intel ikut join di Group WA Pengusaha Tanpa Riba, hehe..
Kata mas Ryan dan Mas Musa pentholan di sana, buanyak pengusaha di Malang yang tersadarkan. Dan semua berazam untuk membersihkan diri dari jeratan riba baik dalam usaha maupun kehidupan pribadi.. Walaupun 1 baliho yang dianggap sensitif diturunkan tadi sore, belum semua orang sanggup menerima.. Shock!
Kata mas Musa.. "Kami malah berharap banyak yang tersadarkan dengan baliho itu dan mau mencari tau apa itu Riba.."
Edaan!
Selain itu..
Makin banyak kisah-kisah ajaib yang jadi testimoni, seperti sebuah catatan ini dari pengusaha yang tobat riba, sayang untuk diliewatkan. Selamat membaca dan men-share...
----------------------------
"...SETELAH SAYA TAUBAT RIBA, BISNIS SAYA MELESAT..!"
(RIBA = Rusak Iman Bisnis Ancur)
Mentor bisnis saya, yaitu Bapak Purdi E. Chandra, owner Primagama Group, dulu sering menyelenggarakan seminar wirausaha dengan tema yang cukup fenomenal dan kontroversial, yaitu:
⚡”CARA GILA JADI PENGUSAHA”⚡
Didalam seminar itu, salah satu yang beliau dorong dan anjurkan adalah utang bank. Ada satu kata-kata yang masih saya ingat betul dan saya yakini kebenarannya dulu, yakni “Hutang Itu Mulia”.
Gimana gak mulia, tiap bulan kita ngasih uang ke bank, kasih angsuran dan bunga. Kan yang memberi lebih mulia dari pada yang menerima. Hmmm, masuk akal menurut saya, waktu itu.
Tapi, pengalaman mengajarkan lain. Ternyata riba itu menyengsarakan hidup saya, merendahkan saya di mata keluarga, dan menghinakan saya dihadapan masyarakat.
Lebih dari 13 tahun saya terjerat riba, yang akhirnya saya pun cabut dan komitmen untuk lepas dari riba. Diluar dugaan, tidak lama kemudian, mentor bisnis saya Bapak Purdi E. Chandra ternyata juga mendeklarasikan taubat riba, bisa dilihat videonya: https://www.youtube.com/watch?v=PS9SI20oKWM
Banyak pengusaha-pengusaha pemula yang masih bersikeras, tanpa bank mereka tidak bisa berkembang. Tanpa bank, darimana mereka mendapatkan modal.
Tanpa bank, bagaimana bisnis mereka bisa diselamatkan.
Kalau ingat mereka yang ngeyel2 ini, saya seperti bercermin dan melihat diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Tanpa bank, gimana bisnis saya bisa berkembang, atau minimal masih bertahan.
Akhirnya, setelah saya taubat riba, justru yang terjadi, bisnis saya melesat. Saya membangun proyek property yang pendanaanya tidak dari bank dan skema kredit/KPR-nya juga tanpa bank.
Di bulan pertama jualan property, saya berhasil menjual 23 unit property yang menghasilkan profit Rp.3,5 Miliar, dan dalam setahun aset property saya meningkat menjadi Rp.10 Miliar. Saat ini proses pengembangan property lagi senilai Rp.40 Miliar. Dan semuanya, enaknya, ga perlu ngemis-ngemis minta diutangin bank.
Guru saya Bapak Heppy Trenggono, terjebak utang Rp.63 Miliar. Begitu taubat riba, dan transaksi bisnis pertama tanpa riba tanpa utang yang beliau bukukan adalah Rp.500 miliar, dan sekarang perkebunan sawitnya yang diperoleh dengan tanpa riba mencapai aset Rp.6 Triliun rupiah dibawah bendera PT. Balimuda Group. Beliau mendirikan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum), merupakan wadah untuk menggembleng ribuan pengusaha2 pejuang anti riba.
Sahabat saya Tanto Abdurrahman dari Yogyakarta, ketika berumur 23 tahun sudah terlibat riba Rp.53 miliar. Begitu taubat riba, sekarang beliau memiliki berbagai usaha seperti pertambangan, tambak, percetakan, Biro haji Umroh, dll. Beliau sekarang juga mengelola 32 pondok pesantren tahfidz Qur’an dengan ribuan santri.
Ada lagi, mas Saptuari Sugiharto dari Jogja pemilik Kedai Digital, Pemenang Wirausaha Muda Mandiri, pengusaha muda, penulis buku, dan provokator bisnis yang sudah terkenal diseluruh Indonesia, juga sekarang menjadi pejuang anti riba yang tidak kenal lelah.
Ada lagi Bapak SAMSUL ARIFIN SBC, seorang mantan CEO perusahaan multinasional, melalui berbagai seminar wirausaha dengan gerakan #PengusahaTanpaRiba berhasil menggebrak dan menyadarkan ribuan pengusaha2 Indonesia untuk cabut dari riba selamanya.
Masih banyak orang-orang hebat yang sekarang menjadi pejuang-pejuang anti riba.
Masih ragu, bisnis tanpa utang bank itu bisa?
Masih memilih menggantungkan nasibmu pada utang bank?
Silakan, itu hak anda. Silakan nikmati saja hari-hari melihat kalender, menghitung hari jatuh tempo angsuran.
Mengingat ketika saya dibangkrutkan 12 kali karena riba, saya sangat bersyukur sekali, ini tandanya Allah masih sayang kepada saya. Dikasih waktu untuk sadar dan bertaubat. Mungkin kalau tidak dibikin bangkrut, saya akan terlena hidup dari riba, dan mati menanggung riba.
Jadi anda yang saat ini sedang bangkrut karena riba, lihat sisi positifnya, anda sedang diselamatkan Allah, agar tidak semakin jauh terjebak riba. Anda sedang dipanggil untuk mendekat kepadaNYA. Ingat, ini cara Allah menyayangimu.
Anda yang usahanya lancar karena riba, silakan introspeksi diri, didalam keharaman tapi bisnis anda dilancarkan. Apakah ini tanda-tanda Allah sudah mengabaikanmu? Jangan-jangan Allah sudah tidak mencintaimu?
Ingat sajalah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)
Iya, semua ada pertanggung jawabannya. Jangan anda kira, Allah akan lupa menghisab, menghitung dan memberikan balasan untuk setiap rupiah uang riba yang kau makan beserta anak dan istrimu.
Jika peringatan ini telah sampai kepadamu dan kau memilih untuk menolaknya, silakan saja. Tapi ingatlah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)
Mungkin ada yang menolak dengan mengatakan:”Negara aja punya utang, ratusan juta orang juga punya utang!”
Ingatlah, banyak orang yang melakukan bukan menjadi dasar bahwa hal tersebut adalah kebenaran. Ibarat seluruh manusia di dunia melakukan riba, maka tidak akan menjadikan riba itu menjadi halal untukmu.
Allah telah memperingatkan :
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am 116)
Jadi, silakan! Apakah anda akan mengikuti kebanyakan orang yang setuju dengan sistem ribawi ? Ataukah anda memilih kembali ke jalan yang Allah ridhai ?
Langganan:
Postingan (Atom)